MENJADI
GURU YANG BERKARAKTER DAN PROFESIONAL
Disusun
oleh : Ahmad Darmadi *)
A.
Latar Belakang
Terpuruknya bangsa Indonesia dewasa ini tidak hanya
disebabkan krisis ekonomi, melainkan juga krisis akhlak yang berakar dari
kurangnya penanaman pendidikan karakter. Kita sungguh prihatin dengan kian maraknya kasus pelanggaran moral yang dilakukan oleh oknum
guru yang membuat bulu kuduk berdiri, Dari
beberapa blog guru, penulis mendapatkan data beberapa kasus pelanggaran moral
guru seperti kasus manipulasi nilai yang terjadi di sejumlah sekolah di
Makassar agar diterima melalui jalur khusus di suatu universitas. Guru membocorkan
soal UN dengan memberikan kunci jawaban pada siswa, kecurangan pada saat uji
portofolio sertifikasi guru, yang dilakukan oleh 3% dari 200.000 total guru
yang mengikuti seleksi. Juga kasus pelecehan seksual oleh oknum guru olahraga
ataupun kasus-kasus guru yang selingkuh di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Penganiayaan yang dilakukan oleh guru pada siswa dibeberapa sekolah, boleh jadi adanya tawuran antar pelajar, geng motor,
pemerkosaan oleh pelajar, hamil sebelum menikah dll terjadi karena imbas dari
proses pendidikan di sekolah yang tidak benar. Hal itu cukup mencoreng
citra dunia pendidikan di Indonesia. Karena akan berdampak pada rusaknya
pandangan masyarakat terhadap sosok guru, hilangnya rasa segan, hormat serta
rasa percaya kepada sosok guru.
Sebenarnya kasus-kasus pelanggaran moral yang
dilakukan oleh beberapa gelintir oknum guru yang tidak bertanggung jawab itu
tidaklah dapat menggambarkan keadaan dunia pendidikan di Indonesia secara
menyeluruh, namun hal itu cukup dijadikan “kartu kuning” bagi kita untuk
tersadar bahwa telah terjadi kemerosotan moral guru di Indonesia. Dan
kemerosotan moral guru itu akan sangat berdampak pada moral peserta didik,
karena perkembangan moral siswa tak lepas dari pengaruh moral guru.
B.
Tugas guru
Sebagaimana diamanatkan dalam UU
RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1 bahwa seorang guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. Dalam praktiknya untuk melaksanakan tugas
mengajar, guru dapat berfungsi sebagai pembimbing, fasilitator, motivator,
inovator maupun dinamisator. Seorang guru yang sudah bersertifikat professional
merupakan harga mati untuk melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung
jawab. Namun demikian disadari bahwa manusia itu akan mengalami pasang surut
sehingga profesionalisme guru harus selalu dijaga bahkan ditingkatkan setiap
saat. Berdasarkan
hasil sejumlah penelitian pendidikan menunjukkan
bahwa tingkat
keberhasilan anak didik dalam melakukan transformasi iptek serta internalisasi etika dan moral ditentukan oleh
peran guru. Disinilah pentingnya melahirkan guru-guru yang berkualitas,
guru-guru yang profesional dan berkarakter mulia yang mampu membangkitkan
semangat besar dalam diri anak didik untuk menjadi aktor perubahan dunia di era
global ini.
Untuk mengembangkan karakter siswa
tidak cukup hanya diajarkan tetapi dibutuhkan teladan hidup (living model) dimana hal ini hanya bisa ditemukan dalam pribadi guru. Tanpa peran
guru pendidikan karakter tidak akan bisa berhasil dengan baik. Pendidikan
karakter memiliki makna lebih tinggi dibandingkan pendidikan moral karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang
hal yang baik sehingga siswa didik menjadi faham (domain kognitif) tentang mana
yang baik dan mana yang tidak, mampu merasakan (domain afektif) nilai yang
baik dan mau melakukannya (domain psikomotor).
Proses pembiasaan ini tidak akan mungkin berjalan dengan baik tanpa bantuan
guru dan juga orang tua.
Dengan demikian dalam kondisi yang bagaimanapun, keberadaan guru
tetap vital karena peran guru tidak seluruhnya dapat digantikan oleh teknologi.
Bagaimanapun canggihnya komputer tetap saja bodoh dibandingkan dengan guru
karena komputer tidak dapat diteladani, bahkan bisa menyesatkan jika
penggunaannya tidak dikontrol.
Mulyasa (2007)
menyatakan bahwa sebagai tauladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan
guru akan mendapat sorotan dari peserta didik serta orang di sekitar lingkungan
yang mengakuinya sebagai guru. Lalu, bagaimana dengan para guru saat ini?
Sudahkah memiliki moral dan kepribadian baik yang layak dicontoh muridnya?
C. Implementasi dalam Pembelajaran
Guru yang mampu melahirkan anak didik yang cerdas dan berkarakter tentu bukan guru yang biasa-biasa
saja tetapi guru yang luar biasa, guru yang super. Berdasarkan UU Guru dan
Dosen No 14 Tahun 2005 disebutkan seorang guru memiliki empat kompetensi guru yaitu (1) Kompetensi
Pedagogik, meliputi (a) kemampuan mamahami peserta didik; (b) kemampuan
memahami prinsip pembelajaran; (c) kemampuan melaksanakan prinsip pembelajaran;
(d) kemapuan merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran; dan (e)
kemampuan mengembangkan potensi pesertaa didik; (2) Kompetensi Kepribadian,
meliputi (a) kemampuan bertindak sesuai nilai dan norma kehidupan; (b)
konsisten membangun sikap mental positif; (c) menjunjung tinggi prinsip
kemaslahatan hidup; dan (d) kemampuan mewujudkan akhlak mulia; (3) Kompetensi
Sosial, meliputi (a) kemapuan menjalin interaksi social dengan peserta didik;
(b) kemapuan menjalin interaksi social dengan sesame guru; (c) kemampuan
menjalin interkasi social dengan tenaga kependidikan; (d) kemampuan menjalin
interaksi social dengan orang tua/ wali siswa; dan (e) kemampuan menjalin
interaksi social dengan warga masyarakat; (4) Kompetensi Profesional, meliputi:
(a) kemampuan penguasaan materi pembelajaran; (b) kemampuan menerapkan
konsep-konsep keilmuan dengan kehidupan sehari-hari; dan (c) kemampuan dalam
membuat karya ilmiah tentang pendidikan. Dengan
memiliki, menghayati dan melaksanakan keempat kompetensi ini maka seorang guru
akan menjadi guru yang professional dan berkarakter dalam kesatuan yang utuh, ibarat
dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan.
Upaya
agar menjadi guru yang professional dan berkarakter dapat ditempuh antara lain
dengan cara:
1.
Menjadi
guru yang menyenangkan
Kadang saya
bertanya dalam hati ketika berhadapan dengan siswa di kelas, “Apakah saya guru
yang menyenangkan buat mereka?” Guru yang menyenangkan mampu membangkitkan
semangat belajar siswa melalui penyampaian materi pelajaran dengan cara yang
menarik dan mengesankan, sehingga peserta didik merasa senang dan tidak
terpaksa dalam menerima pelajaran.
2.
Buat
perancangan mengajar yang dinamis
Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting
sebagai dasar, petunjuk arah kegiatan dan alat kontrol dalam mencapai tujuan
yang akan memandu guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani
kebutuhan belajar siswanya.
Penyusunan perencanaan pembelajaran perlu
memperhatikan isi materi yang disampaikan dan kondisi siswa, baik dari segi
kebutuhan siswa, perkembangan siswa, norma positif bagi siswa, dan minat serta
perhatian siswa. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu
diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain
pembelajaran yang dinamis.
3.
Buat
suasana yang menggairahkan
Agar para siswa
mudah mengerti apa yang kita disampaikan, maka perlu dibangun iklim yang baik
dan membuat aktivitas belajar mengajar menjadi menyenangkan. Para guru, di
antaranya, dituntut untuk cekatan merespons kebutuhan siswa, selalu siap untuk
berdiskusi, dan menjadi pendengar yang baik atas persoalan belajar siswa.
Tetapi, untuk melaksanakan itu semua, yang tak kalah penting adalah memberikan
“aturan main” yang jelas, dan berikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan
umpan balik.
4.
Keluar
dari zona nyaman
Ketika seorang guru merasakan bahwa gaya mengajar saat ini sama
dengan sepuluh tahun lalu saat dia menjadi guru pertama kali dapat dikatakn
sebagai guru zona aman. Guru tersebut dapat dikatakan statis, tidak ada
perubahan, merasa nyaman dalam kondisi yang ada, dan tidak mau hal baru karena
dianggap akan mengganggu pikiran, tenaga dan dana. Yang ada dalam pikirannya
adalah sesuatu yang tetap dan biasa dijalani. Guru zona aman merasakan bahwa
keberhasilan adalah kebiasaan yang terus-menerus dilakukan. Hal itu berbeda dengan guru dinamis yang selalu berubah sejalan
dengan perubahan zaman. Bagi guru dinamis, kondisi statis akan merusak
perkembangan pembelajarannya. Kondisi saat ini menuntuk kreativitas dan inovasi
guru dalam mengajar di kelas karena siswa mengalami perubahan kondisi. Lihat
saja. Siswa saat ini telah dirasuki dunia elektronis yang menjebak mereka juga
harus berdimensi elektronis. Untuk itu, guru juga harus berorientasi terhadap
pola siswa yang demikian itu. Jalan yang terbaik bagi pembelajaran saat ini
adalah jalan yang bernuansa dinamis. Guru harus senantiasa memperbarui gaya
mengajarnya sehingga siswa semakin tertarik, termotivasi, dan tergugah jiwa
belajarnya.
5.
Agen
perubahan
Yang abadi hanyalah perubahan “There is nothing
permanent except cahange” (Heraclitus Filsuf Yunani, 500 SM). Guru sebagai ujung tombak pendidikan haruslah menjadi
agen perubahan (Agent of change), dimana pengetahuan (knowledge) dan
keterampilannya (competency) harus selalu diperbaharui (di-update) sesuai
dengan perkembangan kebutuhan saat ini. Kalau tidak, akan berdampak pada
ketidaksesuain antara kebutuhan peserta didik ataupun orang tua siswa sebagai
pelanggan (customer) dengan pelayanan yang diberikan. Peran guru sebagai agen
perubahan (agent of change), bukan saja diharapkan berfokus kepada layanan
belajar di sekolah namun lebih dari itu, guru harus mampu membangkitkan
semangat peserta didik untuk membebasan diri dari ketertinggalan
Menurut pepatah jawa, Guru adalah digugu lan ditiru yang berarti bahwa guru
merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya selain itu juga harus Ing Ngarso Sung
Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Saat ini sosok guru sudah ikut
"ter-reformasi". Guru dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan yang
selalu berkembang dan mengikuti kemajuan jaman. Guru juga
dituntut untuk memiliki mental, moral dan karakter yang baik, sehingga
tanpa mata pelajaran khususpun, pendidikan moral, mental dan karakter itu sudah
terintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, memberikan teladan
bagaimana berdisiplin, bertanggung jawab dan berdemokrasi, ikhlas dan
sabar dalam melaksanakan tugasnya.
D.
Pengembangan Karakter
dan Profesionalisme Guru
Dalam rangka
pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan maka peningkatan kualitas dan kompetensi dalam penguasaan materi,
metodologi pengajaran, dan penguasaan informasi perlu terus diupayakan dapat dilakukan
dengan berbagai strategi antara lain :
1.
Berperan aktif dalam berbagai pertemuan ilmiah
maupun diklat.
Mengikuti diklat yang focus pada keterampilan
tertentu yang dibutuhkan oleh guru untuk melaksanakan tugasnya secara efektif
akan sangat membantu tugas-tugas guru yang muaranya adalah peningkatan
profesionalisme guru.
2.
Membaca dan menulis jurnal atau makalah ilmiah
lainnya.
Dengan membaca dan memahami banyak jurnal atau
makalah ilmiah lainnya dalam bidang pendidikan yang terkait dengan profesi
guru, maka guru dengan sendirinya dapat mengembangkan profesionalisme dirinya.
Selanjutnya untuk dapat memberikan kontribusi kepada orang lain, guru dapat
melakukan dalam bentuk penulisan artikel/makalah karya ilmiah yang sangat
bermanfaat bagi pengembangan profesionalisme guru yang bersangkutan
maupun orang lain.
3.
Berpartisipasi di dalam kegiatan pertemuan
ilmiah/MGMP.
Pertemuan ilmiah/MGMP memberikan makna penting
untuk menjaga kemutakhiran (up to date) hal-hal yang berkaitan dengan profesi
guru. Tujuan utama dari kegiatan pertemuan ilmiah adalah menyajikan berbagai
informasi dan inovasi terbaru di dalam suatu bidang tertentu. Partisipasi
guru pada kegiatan tersebut akan memberikan kontribusi yang berharga dalam
membangun profesionalisme guru dalam melaksanakan tanggung jawabnya.
4.
Melakukan penelitian seperti PTK.
Penelitian tindakan kelas yang merupakan studi
sistematik yang dilakukan guru melalui kerjasama atau tidak dengan guru lain
dalam rangka merefleksikan dan sekaligus meningkatkan praktek pembelajaran
secara terus menerus juga merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan
profesionalisme guru. Berbagai kajian yang bersifat reflektif oleh guru
yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional, memperdalam pemahaman
terhadap tindakan yang dilakukan dalam melaksanakan tugasnya, dan memperbaiki
kondisi dimana praktek pembelajaran berlangsung akan bermanfaat sebagai
inovasi pendidikan. Dalam hal ini guru diberdayakan untuk mengambil berbagai
prakarsa profesional secara mandiri dengan penuh percaya diri. Jika proses ini
berlangsung secara terus menerus, maka akan berdampak pada peningkatan
profesionalisme guru.
5.
Partisipasi di dalam organisasi/komunitas
profesional.
Ikut serta menjadi anggota organisasi professional
seperti PGRI juga akan meningkatkan profesionalisme seorang guru.
Organisasi profesional biasanya akan melayani anggotanya untuk selalu
mengembangkan dan memelihara profesionalismenya dengan membangun hubungan yang
erat dengan masyarakat. Dalam hal ini yang terpenting adalah guru harus pandai
memilih suatu bentuk organisasi profesional yang dapat memberi manfaat utuh
bagi dirinya melalui bentuk investasi waktu dan tenaga. Pilih secara bijak
organisasi yang dapat memberikan kesempatan bagi guru untuk meningkatkan profesionalismenya.
6.
Kerjasama dengan tenaga profesional lainnya di
sekolah
Seseorang cenderung untuk berpikir dari pada
keluar untuk memperoleh pertolongan atau informasi mutakhir akan lebih mudah
jika berkomunikasi dengan orang-orang di dalam tempat kerja yang sama.
Pertemuan secara formal maupun informal untuk mendiskusikan berbagai isu atau
permasalahan pendidikan termasuk bekerjasama berbagai kegiatan lain (misalnya
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program-program sekolah) dengan
kepala sekolah, orang tua peserta didik (komite sekolah), guru dan staf lain
yang profesional dapat menolong guru dalam memutakhirkan pengetahuannnya.
Berpartisipasi di dalam berbagai kegiatan tersebut dapat menjaga keaktifan
pikiran dan membuka wawasan yang memungkinkan guru untuk terus memperoleh
informasi yang diperlukannya dan sekaligus membuat perencanaan untuk
mendapatkannya. Semakin guru terlibat dalam memperolehan informasi, maka guru
semakin merasakan akuntabel, dan semakin guru merasakan akuntabel maka ia
semakin termotivasi untuk mengembangkan dirinya.
Menyimak beragam beragam kompetensi yang harus dimiliki oleh
setiap guru di atas, kemudian dikomparasikan dengan kenyataan riil disekolah
yang dilaksanakan oleh guru di sekolah maka kesimpulan yang dapat diambil adalah
(a) guru merupakan salah satu factor kunci dalam menentukan kualitas dan
keberhasilan proses pembelajaran siswa di kelas; (b) guru yang memiliki
kualitas kompetensi pedagogic, kepribadian, sosial, dan profesioanal, akan
mampu berperan sebagai guru yang professional dan berkarakter (c) guru hendaknya
terus mengembangkan profesionalismenya
secara berkelanjutan.
Referensi
Mulyasa, E. (2007). Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Septiani
Al-Hanif artikel Pelanggaran Moral Guru, Adakah
Berdampak Bagi Siswa? Artikel diunduh tanggal 21 Mei 2013
Lia Wahyuni,
Guru berkarakter, Artikel diunduh tanggal 22 Mei 2013
*) Penulis
adalah Guru mapel. Fisika di SMA Pembangunan 2 Karangmojo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar