Senin, 28 Oktober 2013

PENGGUNAAN METODE PEMECAHAN MASALAH
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA
DALAM MENGUASAI KOMPETENSI DASAR
PADA MATERI ENERGI POTENSIAL GRAFITASI
Oleh : Ahmad Darmadi

Latar Belakang
Salah satu kompetensi dasar mata pelajaran fisika yang harus dikuasai siswa adalah menganalisis hubungan antara usaha, perubahan energi dengan hukum kekekalan energi mekanik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan kompetensi tersebut umumnya masih bersifat teoritis atau disebut oleh Lythcoott & Stewart (2001) sebagai “inherited language science”. Konsep energi diperoleh secara tekstual dari buku, dan dijabarkan dengan pendekatan matematik.
Guru di kelas hanya berpikir “Siswa akan diajar apa hari ini ?” bukan “Siswa belajar apa hari ini ?”. Metode pembelajaran yang digunakan cenderung monoton dari satu arah. Guru lebih dominan dan asyik dengan menurunkan persamaan-persamaan matematiknya Guru menjadi pusat pembelajaran, siswa dijejal untuk melahap informasi dan pengetahuan dari guru. Siswa sebagai obyek yang hanya  duduk, dengar, catat, hapal (DDCH). Proses pembelajaran seperti ini membuat siswa tidak mampu mengaktivasi kemampuannya, sehingga mereka tidak memiliki keberanian menyampaikan pendapat, lemah penalaran, tidak peka pada lingkungan dan bergantung pada orang lain. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep tersebut dengan cara mengamati, memahami, dan memanfaatkan gejala-gejala alam dengan bereksperimen. Kegiatan pembelajaran yang seperti ini menimbulkan kesan secara umum bahwa fisika itu momok yang menakutkan.

Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, ditemukan permasalahan bahwa kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan belum mampu meningkatkan penguasaan kompetensi dasar konsep Energi Potensial Grafitasi sehingga kemampuan siswa secara umum masih rendah.

Upaya Penyelesaian Masalah
Menghadapi kondisi sebagaimana diuraikan di atas maka penulis mencoba menggabungkan beberapa metode pembelajaran dengan desain agar siswa aktif dalam pembelajaran dan menemukan sendiri kompetensi yang sedang dipelajari. Proses pembelajaran yang penulis lakukan untuk mempelajari konsep Energi Potensial Grafitasi, secara garis besar adalah sebagai berikut:
1.      Siswa melakukan proses ekplorasi dengan mencari informasi terjadinya krisis energi di Negara kita.
2.      Siswa melakukan proses ekplorasi dengan mendata sumber-sumber energi yang dapat dikembangkan didaerahnya masing-masing.
3.      Guru memfasilitasi agar siswa mendapatkan sumber energi yang berasal dari energi potensial grafitasi misalnya air terjun dan memfasilitasi untuk dapat ke lokasi tersebut untuk melakukan penelitian.
4.      Siswa secara berkelompok membuat proposal penelitian untuk memecahkan masalah krisis energi tersebut.
5.      Siswa secara berkelompok melakukan elaborasi dengan melakukan penelitian untuk menghitung potensi energi yang dapat dihasilkan dari air terjun tersebut dengan mengukur debit aliran air dan head.
                                     

Foto kegiatan siswa ketika melakukan penelitian
untuk pengukuran head dan debit aliran air

6.      Siswa mendiskusikan hasil penelitian yang telah dilakukan berupa potensi energi yang ada guna mengurangi krisis energi yang terjadi di daerahnya.
7.      Siswa melakukan konfirmasi dengan membuat laporan hasil penelitian dan mempresentasikan hasil.



Dengan metode pemecahan masalah yang penulis terapkan di atas, siswa akan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, siswa memiliki keleluasaan untuk menyampaikan ide/gagasannya secara bebas tanpa rasa takut dan dapat mengembangkan cara berfikir ilmiah. Penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah dan berusaha memecahkannya mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi.
Keuntungan menggunakan metode problem solving yang penulis rasakan antara lain sebagai berikut:
  1. Siswa belajar dengan aktif dan ceria dalam suasana yang menyenangkan
  2. Menjadikan materi pelajaran yang abstrak menjadi konkrit
  3. Siswa belajar dengan melakukan (learning by doing) sehingga memiliki pemahaman yang lebih banyak dan bertahan di otak lebih lama
4.      Mendorong siswa untuk berfikir aktif dan kreatif dalam mencari bentuk-bentuk pemecahan masalah sepenuh hati dan teliti. Meskipun harus melalui trial and error (terus mencoba, meskipun mengalami kesalahan).
  1. Melatih siswa berfikir ilmiah dan analitis
  2. Melatih siswa untuk mengorganisasikan sebuah kegiatan
Adapun kelemahan metode ini adalah memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang namun demikian dapat diatasi dengan memanfaatkan hari-hari libur siswa, selain itu perlu diantisipasi dengan persiapan yang matang terutama untuk siswa yang berkemampuan kurang agar tidak frustasi dan merasa tertekan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar