PENGGUNAAN
METODE PEMECAHAN MASALAH
UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA
DALAM MENGUASAI
KOMPETENSI DASAR
PADA MATERI ENERGI
POTENSIAL GRAFITASI
Oleh : Ahmad Darmadi
Latar Belakang
Salah satu kompetensi dasar mata pelajaran fisika yang harus dikuasai siswa
adalah menganalisis hubungan antara usaha, perubahan energi
dengan hukum kekekalan energi mekanik dan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari. Penguasaan kompetensi tersebut umumnya masih bersifat teoritis atau disebut oleh Lythcoott &
Stewart (2001) sebagai “inherited
language science”. Konsep energi diperoleh secara tekstual dari buku, dan dijabarkan
dengan pendekatan
matematik.
Guru di kelas hanya
berpikir “Siswa akan diajar apa hari ini ?” bukan “Siswa belajar apa hari ini ?”. Metode pembelajaran yang digunakan cenderung monoton
dari satu arah. Guru lebih dominan dan asyik dengan menurunkan
persamaan-persamaan matematiknya Guru menjadi pusat pembelajaran, siswa dijejal untuk melahap informasi dan
pengetahuan dari guru. Siswa sebagai obyek yang hanya duduk, dengar, catat, hapal (DDCH). Proses pembelajaran seperti ini membuat siswa tidak
mampu mengaktivasi kemampuannya, sehingga mereka tidak memiliki keberanian menyampaikan pendapat,
lemah penalaran, tidak peka pada lingkungan dan bergantung pada orang lain. Siswa tidak diberi
kesempatan untuk
menemukan sendiri konsep tersebut dengan cara mengamati, memahami, dan memanfaatkan
gejala-gejala alam dengan bereksperimen. Kegiatan pembelajaran yang
seperti ini menimbulkan
kesan secara umum bahwa
fisika itu momok yang menakutkan.
Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, ditemukan permasalahan bahwa kegiatan pembelajaran yang
selama ini dilakukan belum mampu meningkatkan penguasaan kompetensi dasar konsep
Energi Potensial Grafitasi sehingga kemampuan siswa secara umum masih rendah.
Upaya Penyelesaian Masalah
Menghadapi
kondisi sebagaimana diuraikan di atas maka penulis mencoba menggabungkan
beberapa metode pembelajaran dengan desain agar siswa aktif dalam pembelajaran
dan menemukan sendiri kompetensi yang sedang dipelajari. Proses pembelajaran
yang penulis lakukan untuk mempelajari konsep Energi Potensial Grafitasi,
secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Siswa melakukan proses ekplorasi dengan mencari informasi
terjadinya krisis energi di Negara kita.
2. Siswa
melakukan proses ekplorasi dengan mendata sumber-sumber energi yang dapat
dikembangkan didaerahnya masing-masing.
3. Guru
memfasilitasi agar siswa mendapatkan sumber energi yang berasal dari energi
potensial grafitasi misalnya air terjun dan memfasilitasi untuk dapat ke lokasi
tersebut untuk melakukan penelitian.
4. Siswa
secara berkelompok membuat proposal penelitian untuk memecahkan masalah krisis
energi tersebut.
5. Siswa
secara berkelompok melakukan elaborasi dengan melakukan penelitian untuk
menghitung potensi energi yang dapat dihasilkan dari air terjun tersebut dengan
mengukur debit aliran air dan head.
Foto kegiatan siswa ketika melakukan penelitian
untuk pengukuran head dan debit aliran air
6. Siswa
mendiskusikan hasil penelitian yang telah dilakukan berupa potensi energi yang
ada guna mengurangi krisis energi yang terjadi di daerahnya.
7. Siswa
melakukan konfirmasi dengan membuat laporan hasil penelitian dan mempresentasikan
hasil.
Dengan metode pemecahan masalah
yang penulis terapkan di atas, siswa akan terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran, siswa memiliki keleluasaan untuk menyampaikan ide/gagasannya secara
bebas tanpa rasa takut dan dapat mengembangkan cara berfikir ilmiah. Penggunaan
metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi
berbagai masalah dan berusaha memecahkannya mampu meningkatkan
kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi.
Keuntungan menggunakan metode
problem solving yang penulis rasakan antara lain sebagai berikut:
- Siswa
belajar dengan aktif dan ceria dalam suasana yang menyenangkan
- Menjadikan materi pelajaran
yang abstrak menjadi konkrit
- Siswa belajar dengan
melakukan (learning by doing) sehingga memiliki pemahaman yang lebih
banyak dan bertahan di otak lebih lama
4. Mendorong siswa untuk berfikir
aktif dan kreatif dalam mencari bentuk-bentuk pemecahan masalah sepenuh hati
dan teliti. Meskipun harus melalui trial and error (terus mencoba, meskipun
mengalami kesalahan).
- Melatih siswa berfikir
ilmiah dan analitis
- Melatih siswa untuk
mengorganisasikan sebuah kegiatan
Adapun kelemahan metode ini
adalah memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang namun demikian dapat diatasi
dengan memanfaatkan hari-hari libur siswa, selain itu perlu diantisipasi dengan
persiapan yang matang terutama untuk siswa yang berkemampuan kurang agar tidak
frustasi dan merasa tertekan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar